Minggu, 22 November 2009

OPERA VAN CICAK Vs BUAYA


Jakarta - Lalu lintas kriminalitas indonesia semakin ramai saja,setelah kasus ketua KPK no aktif Antasari Azhar sekarang giliran wakilnya yaitu BIbit S.Rianto dan Chandra hamzah yang mendapat "amplop" dan setelah di dengarkan rekaman percakapan yang di sadap oleh kpk terhadap Anggodo Widjojo yang tak lain adalah kakak dari Anggoro Widjojo direktur dari PT Masaro Radiokom.

Pembentukan tim pencari fakta dugaan rekayasa kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah patut disambut baik. Tapi tim ini harus bekerja maksimal agar khalayak tidak semakin kecewa. Tidak sekadar menelisik kriminalisasi dua tokoh antikorupsi ini, mereka perlu pula merekomendasikan agar pejabat kepolisian dan kejaksaan yang bersalah diberi sanksi setimpal.

Khalayak kesal lantaran dua pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi itu dijerat tanpa bukti memadai. Mereka dituduh menyalahgunakan wewenang, padahal KPK memang berwenang menyadap dan memerintahkan pencekalan. Bibit dan Chandra semula juga disangka menerima suap, tapi belakangan dituding hanya memeras. Semua tudingan ini mengada-ada karena mereka mengaku tidak pernah menerima duit dari Anggoro Widjojo, buron kasus korupsi pengadaan radio komunikasi di Departemen Kehutanan.

Baik penyalahgunaan wewenang maupun pemerasan merupakan delik yang lentur, amat bergantung pada penafsiran penyidik. Artinya, penegak hukum bisa saja nekat membawa Bibit-Chandra ke pengadilan sekalipun hanya berbekal indikasi, bukan bukti kuat. Cara seperti ini jelas melecehkan rasa keadilan masyarakat. Kenapa polisi terkesan lebih getol mencari-cari kesalahan kedua pejabat KPK itu dibanding memburu koruptor?

Publik semakin marah setelah beredar transkrip rekaman percakapan Anggodo, adik Anggoro, dengan pejabat Kejaksaan Agung. Dari transkrip ini, semakin kuatlah dugaan adanya persekongkolan antara petinggi kejaksaan dan kepolisian untuk mengerdilkan KPK lewat kriminalisasi Bibit-Chandra. Anehnya, Jaksa Agung dan Kepala Polri tidak mengambil tindakan apa pun terhadap pejabat yang muncul atau disebut-sebut dalam transkrip itu. Polisi malah memperlihatkan arogansi dengan menahan kedua pejabat nonaktif KPK itu.

Itu sebabnya, tim independen bentukan Presiden Yudhoyono tidak akan menyelesaikan masalah jika hanya berkonsentrasi pada kasus Bibit-Chandra, bahkan sekalipun keduanya kemudian dibebaskan. Tim verifikasi yang dipimpin oleh Adnan Buyung Nasution ini harus pula mengusut pejabat kepolisian dan kejaksaan yang terlibat dalam persekongkolan. Perlu juga dipastikan apakah Kepala Polri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Jaksa Agung Hendarman Supandji merestui atau setidaknya mengetahui dan kemudian membiarkan dugaan rekayasa itu.

Jika ternyata keduanya terlibat, jangan ragu tim independen mengusulkan kepada Presiden agar mereka dicopot dari jabatannya. Rekomendasi seperti ini penting buat meredakan konflik antara KPK dan kepolisian-kejaksaan. Harus diakui, dua lembaga penegak hukum konvensional itu setengah hati menerima kehadiran KPK sebagai superbody. Bahkan ada pejabat kepolisian yang berupaya menyepelekan komisi antikorupsi ini dengan sebutan cicak, dan menyebut lembaganya sendiri sebagai buaya.

Hanya dengan tindakan drastis, independensi dan keberanian KPK bisa dipulihkan. Lembaga ini akan bekerja normal bila ada jaminan tidak direcoki lagi oleh kepolisian dan kejaksaan, yang keduanya berada di bawah kendali Presiden. Inilah pentingnya sikap tegas Presiden Yudhoyono. Jika ia mengaku siap berdiri di depan melawan pembubaran KPK, sikap yang sama seharusnya diambil terhadap setiap upaya pengerdilan lembaga ini.

Jumat, 04 September 2009

TASIK, MENANGIS

Jakarta – Di mulai dari bencana Tsunami yang terjadi di Aceh tahin 2006 di susul gempa bumi yang terjadi di nias,yogya dll.

Dan terakhir adalah gempa bumi yang terjadi di Tasikmalaya dan sekitarnya dengan kekuatan gempa sekitar 7,3 SR. dengan skala richter yang melebihi 6 gempa seperti itu dapat juga mengakibatkan Tsunami.

Goncang gempa pun terasa sampai di Jawa Timur dan sampai saat ini korban gempa yang berpusat di barat daya tasikmalaya itu telah menelan korban sekitar 64 tewas dan 37 di nyatakan hilang.

Menurut data,gempa yang terjadi Tasik itu di sebabkan bersifat periodik. tahun 1974 gempa berkekuatan sekitar 6,1 SR melanda tasik dan mengakibatkan 1.430 rumah hancur dan merenggut puluhannyawa penduduk. data itu pun di dukung BMKG, wilayah selatan Jawa Barat khususnya Tasik dan sukabumi terletak di zona subduksi pertemuan 2 lempeng Indo-Australia dan Eurasia.

Jumat, 14 Agustus 2009

NOORDIN M TOP ANTARA ADA DAN TIADA


JAKARTA - Pengepungan oleh  Densus88 Antiteror Polri pada sebuah rumah di tengah persawahan di Desa Beji, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah hingga Jumat pukul 23.00 WIB.
Apakah di dalam rumah itu ada gembong teroris Noordin M Top atau tidak?

Menurut wartawan ANTARA yang berada di lokasi kejadian Jumat malam, puluhan aparat keamanan yang menggerebek rumah itu terlihat sangat hati-hati menerobos ke dalam rumah milik Muhzari yang disewakan kepada orang yang saat ini berada di dalamnya.

Polisi menghalau ratusan penduduk yang menyaksikan pengepungan hingga 200 meter dari rumah itu. Beredar kabar bahwa salah seorang lelaki yang tinggal di rumah itu memiliki ciri fisik seperti Noordin M Top yang bertubuh tinggi tegap.

Langkah hati-hati aparat keamanan itu kemungkinan besar karena di dalam rumah itu tersimpan bahan peledak. Beberapa kali terdengar letusan senjata tajam di lokasi pengepungan, namun belum diketahui apakah ada yang terluka dalam insiden itu.

Melihat gerakan cepat Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, ketika menciduk orang yang dicurigai sebagai anggota jaringan teroris, bisa dipastikan bahwa orang-orang yang berada di dalam rumah itu memang orang-orang penting di organisasi teroris.

Dua jam sebelum Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, mengepung rumah di Desa Beji, mereka sudah menciduk tiga orang, dua di antaranya adik kakak Hendra (23) dan Aris (32). Keduanya ditangkap di bengkel sepeda di dekat Pasar Kedu.

Penangkapan adik kakak ini berdasarkan informasi yang diperoleh petugas dari orang pertama yang ditangkap polisi pada Jumat. Tidak lama kemudian, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, menuju rumah di Desa Beji untuk melakukan pengepungan.

Berbeda dengan proses penangkapan yang terjadi pada tiga orang yang dicurigai sebagai jaringan teroris, Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri, sangat hati-hati ketika melakukan pengepungan di rumah di Desa Beji.

Jumat, 10 Juli 2009

SBY DALAM 100 HARI KE DEPAN

JAKARTA-Sukses besar pasangan SBY-Boediono meraup suara yang signifikan tak lepas dari kerja keras kader dan koalisi besar yang di usung tim suksesnya.

Pasangan SBY-boediono yang diusung partai besar seperti Partai Demokrat, PKS, PAN, PPP, dan PKB berhasil memperoleh suara yang mengungguli pasangan lain. Dari data kapu yang terbaru pasangan ini masih berada di urutan pertama sekitar 61% di ikuti Mega-Prabowo sekitar 28% dan JK-Wiranto di urutan ketiga sekitar 9%.

Menurut tim suksesnya, pasangan yang di deklarasikan di Bandung, memang yakin akan meraup suara yang besar di setiap provinsi. Termasuk di daerah Bandung tempat pasangan ini di deklarasikan. Hasilnya di Bandung pasangan ini meraup suara sekitar 78%.

Tapi masalah kembali timbul, koalisi besar yang mengusung SBY-Boediono tampak akan menyulitkan SBY untuk membetuk suatu kabinet.

Partai pendukung SBY cukup banyak untuk menempatkan kadernya di posisi paling strategis di kabinet, sehingga tarik menarik kepentngan akan tetap ada.

Tapi sebenarnya masyarakat menginginkan SBY tidak hanya mengakomodasi kader partai politik masuk dalam kabinet nanti, tetapi juga kalangan profesional.

Selain itu tim JK-Win provinsi Kepulauan Riau menerima dengan lapang dada kedudukan JK-Wiranto berada di urutan ketiga saat ini. Walaupun saat Pileg kemarin partai Golkar menang di Kepri.

Jika SBY nanti yang ke pilih nanti, masyarakat menanti janji SBY soal pendidikan dan pemberantasan korupsi karena 2 aspek itu yang di inginkan masyarakat untuk di jalankan dalam 100 ke depan.

Jumat, 26 Juni 2009

MEGAWATI "JATUH CINTA" KEPADA PRABOWO

JAKARTA - Sebagai satu-satunya perempuan peserta Pilpres 2009, sah-sah saja jika Megawati Soekarnoputri menyebut dirinya yang tercantik ketimbang calon lain. Tapi tidak hanya itu, dia juga menyebut pendampingnya, Prabowo Subianto sebagai pria yang paling ganteng di antara calon yang lain.

Mega mengatakan hal itu di hadapan ribuan pendukungnya dalam kampanye terbuka di lapangan Desa Kertosari, Madiun, Jatim, Jumat (26/6/2009). Mega didampingi penasihat Tim Kampanye Nasional Mega-Prabowo, Pramono Anung dan Suhardi.

Mega menyampaikan, dari ketiga pasangan calon yang ada, hanya dia dan Prabowo lah satu-satunya pasangan yang berani melakukan berbagai kontrak politik dengan rakyat. Pasangan nomor urut 1 ini telah melakukan kontrak politik dengan para petani, nelayan, buruh, guru dan mahasiswa.

Menurut Mega, banyak hal-hal yang telah ia perbuat saat ia memerintah dahulu. Hanya saja, karena keterbatasan waktu memerintah yang hanya 2,5 tahun, ia tidak bisa melakukan yang telah ia rencanakan sebelumnya.

Dalam setiap kesempatan kampanyenya, Mega kerap mencontohkan jembatan Suramadu dan Tol Cipularang yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada masanya. Namun Mega tidak sempat merasakan upacara peresmian kedua proyek itu karena rakyat tidak memilihnya pada Pilpres 2004.

JK SERANG SBY

JAKARTA - Dibandingkan debat calon presiden pada putaran pertama tanggal 18 juni 2009, debat calon presiden putaran kedua kamis malam tanggal 25 juni 2009 di Jakarta dengan tema mengentaskan kemiskinan dan pengangguran lebih dinamis dan sangat berwarna.

Dan interaksi capres pun pada putaran kedua yang di langsungkan di studio Metro tv ini lebih banyak, berkali kali SBY 'diserang' JK dalam debat capres kedua ini. Contoh nya saat JK menjawab pertanyaan dari moderator. "Mohon maaf pak Bambang kalau dalam iklan indomie yang bapak keluarkan. Hal itu justru akan membebani karena harga gandum masih impor," kata JK.

SBY pun tak tinggal diam. "Mohon maaf pak JK kalau yang di maksud pak JK adalah indomie yang di buat oleh gandum. Indomie yang saya makan sudah dengan campuram singkong, gandum dan lainnya."

Namun, SBY terkesan defensif dan tidak mau menyerang balik JK. SBY tidak ingin rakyat melihat presiden dan wapres saling serang.

Menurut SBY "sentilan" dari JK itu masih dalam tahap wajar dan tidak berlebihan. Dan menurut SBY semua pandangan calon presidan kali ini sama walau pun ada yang berbeda itu wajar.

Meskipun demikian, Menurut Megawati debat kali ini masih sama tapi tema nya saja yang berbeda.

Sementara itu, JK yang terlihat tenang dan rileks. Tidak merasa tersinggung dengan "serangan Megawati tentang kinerja dia sebagai menteri saat masa Megawati di nilai tidak baik.

Minggu, 24 Mei 2009

PROFIL CAPRES DAN CAWAPRES 2009 (Bagian 1 : SBY BerBoedi)

Profil : Susilo Bambang Yudhoyono
Ia lahir di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur pada 9 September 1949 dari anak pasangan Raden Soekotjo dan Siti Habibah. Dari ayahnya, silsilahnya dapat dilacak hingga Pangeran Buwono Keling dari Kerajaan Majapahit dengan RM. Kustilah yang merupakan keturunan Gusti Bandoro Ayu (putri Sri Sultan Hamengkubuwono III.
Seperti ayahnya; Viditaris Sasongko, ia pun berkecimpung di dunia kemiliteran. Selain tinggal di kediaman keluarga di Bogor (Jawa Barat), SBY juga tinggal di Istana Merdeka, Jakarta. Susilo Bambang Yudhoyono menikah dengan Kristiani Herawati yang adalah anak perempuan ketiga Jenderal (Purnawirawan) Sarwo Edhi Wibowo (alm). Komandan militer Jenderal Sarwo Edhi Wibowo turut membantu menumpas PKI (Partai Komunis Indonesia) pada tahun 1965. Dari pernikahan mereka lahir dua anak lelaki, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono (lahir 1979) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (lahir 1982).
Agus adalah lulusan dari SMA Taruna Nusantara tahun 1997 dan Akademi Militer Indonesia tahun 2000. Seperti ayahnya, ia juga mendapatkan penghargaan Adhi Mekayasa dan seorang prajurit dengan pangkat Letnan Satu TNI Angkatan Darat yang bertugas di sebuah batalion infantri di Bandung, Jawa Barat. Agus menikahi Anissa Larasati Pohan, seorang aktris yang juga anak dari mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia. Sejak pertengahan 2005, Agus menjalani pendidikan untuk gelar master-nya di Strategic Studies at Institute of Defense and Strategic Studies, Singapura. Anak yang bungsu, Edhie Baskoro lulus dengan gelar ganda dalam Financial Commerce dan Electrical Commerce tahun 2005 dari Curtin University of Technology di Perth, Australia Barat.

Pendidikan
Akademi Angkatan Bersenjata RI (Akabri) tahun 1973
American Language Course, Lackland, Texas AS, 1976
Airbone and Ranger Course, Fort Benning , AS, 1976
Infantry Officer Advanced Course, Fort Benning, AS, 1982-1983
On the job training di 82-nd Airbone Division, Fort Bragg, AS, 1983
Jungle Warfare School, Panama, 1983
Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman, 1984
Kursus Komando Batalyon, 1985
Sekolah Komando Angkatan Darat, 1988-1989
Command and General Staff College, Fort Leavenworth, Kansas, AS
Master of Art (MA) dari Management Webster University, Missouri, AS
Doktor dalam bidang Ekonomi Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), tahun 2004.

Karier militer
Tahun 1973, ia lulus dari Akademi Militer Indonesia (Akabri: Angkatan Bersenjata Republik Indonesia dengan penghargaan Adhi Makayasa sebagai murid lulusan terbaik dan Tri Sakti Wiratama yang merupakan prestasi tertinggi gabungan mental, fisik, dan intelek. Periode 1974-1976, ia memulai karier di Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad. Pada tahun 1976, ia belajar di Airborne School dan US Army Rangers, American Language Course (Lackland-Texas), Airbone and Ranger Course (Fort Benning) Amerika Serikat.
Kariernya berlanjut pada periode 1976-1977 di Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad, Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977), Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978, Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981, Paban Muda Sops SUAD (1981-1982. Periode 1982-1984, ia belajar di Infantry Officer Advanced Course (Fort Benning) Amerika Serikat.
Tahun 1983, ia belajar pada On the job training in 82-nd Airbone Division (Fort Bragg) Amerika Serikat, Jungle Warfare School (Panama, Kursus Senjata Antitank di Belgia dan Jerman pada tahun 1984, Kursus Komando Batalyon (1985) dan meniti karier di Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985), Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988), dan Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988).
Periode 1988-1989, ia Sekolah Komando Angkatan Darat dan belajar di US Command and General Staff College pada tahun 1991. Periode (1989-1993), ia bekerja sebagai Dosen Seskoad Korspri Pangab, Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994, Asops Kodam Jaya (1994-1995) dan Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995) serta Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (1995-1996). Pada tahun 1997, ia diangkat sebagai Kepala Angkatan Bersenjata dan Staf Urusan Sosial dan Politik. Ia pensiun dari kemiliteran pada 1 April 2001 oleh karena pengangkatannya sebagai menteri.
Lulusan Command and General Staff College (Fort Leavenwort) Kansas Amerika Serikat dan Master of Art (MA) dari Management Webster University Missouri ini juga meniti karier di Kasdam Jaya (1996), dan Pangdam II/Sriwijaya sekaligus Ketua Bakorstanasda. Karier militernya terhenti sebagai Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI) dengan pangkat Jenderal.

Karier politik
Tampil sebagai juru bicara Fraksi ABRI menjelang Sidang Umum MPR 1998 yang dilaksanakan pada 9 Maret 1998 dan Ketua Fraksi ABRI MPR dalam Sidang Istimewa MPR 1998. Pada 29 Oktober 1999, ia diangkat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di pemerintahan pimpinan Presiden Abdurrahman Wahid. Setahun kemudian, tepatnya 26 Oktober 1999, ia dilantik sebagai Menteri Koordinator Politik, Sosial, dan Keamanan (Menko Polsoskam) sebagai konsekuensi penyusunan kembali kabinet Abdurrahman Wahid.
Dengan keluarnya Maklumat Presiden pada 28 Mei 2001 pukul 12.00 WIB, Menko Polsoskam ditugaskan untuk mengambil langkah-langkah khusus mengatasi krisis, menegakkan ketertiban, keamanan, dan hukum secepat-cepatnya lantaran situasi politik darurat yang dihadapi pimpinan pemerintahan. Saat itu, Menko Polsoskam sebagai pemegang mandat menerjemahkan situasi politik darurat tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana yang ada dalam Undang-undang Nomor 23 tahun 1959.
Belum genap satu tahun menjabat Menko Polsoskam atau lima hari setelah memegang mandat, ia didesak mundur pada 1 Juni 2001 oleh pemberi mandat karena ketegangan politik antara Presiden Abdurrahman Wahid dan DPR. Jabatan pengganti sebagai Menteri Dalam Negeri atau Menteri Perhubungan yang ditawarkan presiden tidak pernah diterimanya.
Kabinet Gotong Royong pimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri melantiknya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) pada 10 Agustus 2001. Merasa tidak dipercaya lagi oleh presiden, jabatan Menko Polkam ditinggalkannya pada 11 Maret 2004. Berdirinya Partai Demokrat pada 9 September 2002 menguatkan namanya untuk mencapai kerier politik puncak. Ketika Partai Demokrat dideklarasikan pada 17 Oktober 2002, namanya dicalonkan menjadi presiden dalam pemilu presiden 2004.
Setelah mengundurkan diri dari jabatan Menko Polkam dan sejalan dengan masa kampanye pemilu legislatif 2004, ia secara resmi berada dalam koridor Partai Demokrat. Keberadaannya dalam Partai Demokrat menuai sukses dalam pemilu legislatif dengan meraih 7,45 persen suara. Pada 10 Mei 2004, tiga partai politik yaitu Partai Demokrat, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia, dan Partai Bulan Bintang secara resmi mencalonkannya sebagai presiden dan berpasangan dengan kandidat wakil presiden Jusuf Kalla.

Ringkasan karir
Dan Tonpan Yonif Linud 330 Kostrad (1974-1976)
Dan Tonpan Yonif 305 Kostrad (1976-1977)
Dan Tn Mo 81 Yonif Linud 330 Kostrad (1977)
Pasi-2/Ops Mabrigif Linud 17 Kujang I Kostrad (1977-1978)
Dan Kipan Yonif Linud 330 Kostrad (1979-1981)
Paban Muda Sops SUAD (1981-1982)
Komandan Sekolah Pelatih Infanteri (1983-1985)
Dan Yonif 744 Dam IX/Udayana (1986-1988)
Paban Madyalat Sops Dam IX/Udayana (1988)
Dosen Seskoad (1989-1992)
Korspri Pangab (1993)
Dan Brigif Linud 17 Kujang 1 Kostrad (1993-1994)
Asops Kodam Jaya (1994-1995)
Danrem 072/Pamungkas Kodam IV/Diponegoro (1995)
Chief Military Observer United Nation Peace Forces (UNPF) di Bosnia-Herzegovina (sejak awal November 1995)
Kasdam Jaya (1996-hanya lima bulan)
Pangdam II/Sriwijaya (1996-) sekaligus Ketua Bakorstanasda
Ketua Fraksi ABRI MPR (Sidang Istimewa MPR 1998)
Kepala Staf Teritorial (Kaster ABRI (1998-1999)
Mentamben (sejak 26 Oktober 1999)
Menko Polsoskam (Pemerintahan Presiden KH Abdurrahman Wahid)
Menko Polkam (Pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri) mengundurkan diri 11 Maret 2004
Presiden Republik Indonesia (2004-Sedang Menjabat)

Penghargaan
Tri Sakti Wiratama (Prestasi Tertinggi Gabungan Mental Fisik, dan Intelek), 1973
Adhi Makayasa (lulusan terbaik Akabri 1973)
Satya Lencana Seroja, 1976
Honor Graduate IOAC, USA, 1983
Satya Lencana Dwija Sista, 1985
Lulusan terbaik Seskoad Susreg XXVI, 1989
Dosen Terbaik Seskoad, 1989
Satya Lencana Santi Dharma, 1996
Satya Lencana United Nations Peacekeeping Force (UNPF), 1996
Satya Lencana United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia, Baranja, and Western Sirmium (UNTAES), 1996
Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, 1998
Bintang Yudha Dharma Nararya, 1998
Wing Penerbang TNI-AU, 1998
Wing Kapal Selam TNI-AL, 1998
Bintang Kartika Eka Paksi Pratama, 1999
Bintang Yudha Dharma Pratama, 1999
Bintang Dharma, 1999
Bintang Maha Putera Utama, 1999
Tokoh Berbahasa Lisan Terbaik, 2003
Bintang Asia (Star of Asia), 2005, oleh BusinessWeek
Bintang Kehormatan Darjah Kerabat Laila Utama, 2006, oleh Sultan Brunei
Doktor Honoris Causa, 2006, oleh Universitas Keio
Darjah Utama Seri Mahkota, 2008, oleh Yang DiPertuan Agong Tuanku Mizan Zainal Abidin
100 tokoh Berpengaruh Dunia kategori Pemimpin & Revolusioner Majalah TIME, 2009, oleh TIME
Susilo Bambang Yudhoyono juga pernah dicalonkan untuk menjadi penerima penghargaan Nobel perdamaian 2006 bersama dengan Gerakan Aceh Merdeka dan Martti Ahtisaari atas inisiatif mereka untuk perdamaian di Aceh.

Profil : Boediono
Prof.Dr. Boediono,M.Ec. (lahir di Blitar, Jawa Timur, 25 Februari 1943; umur 66 tahun) lebih dikenal dengan sebutan The man to get the job done, adalah Gubernur Bank Indonesia sekarang ini. Sebelumnya Boediono menjabat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian pada Kabinet Indonesia Bersatu. Boediono juga pernah menjabat Menteri Keuangan Indonesia dalam Kabinet Gotong Royong (2001–2004). Sebelumnya pada Kabinet Reformasi Pembangunan (1998-1999), Boediono adalah Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Bank Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto. Saat ini ia juga mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, di universitas ini pula ia diangkat sebagai Guru Besar.

Keluarga
Boediono beristrikan Herawati dan memiliki dua anak, Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan.
Pendidikan dan Penghargaan
Ia memperoleh gelar Bachelor of Economics (Hons.) dari Universitas Western Australia pada tahun 1967. Lima tahun kemudian, gelar Master of Economics diperoleh dari Universitas Monash. Kemudian pada tahun 1979, ia mendapatkan gelar S3 (Ph.D.) dalam bidang ekonomi dari Wharton School, Universitas Pennsylvania.
Ia mendapat penghargaan Bintang Mahaputra Adipradana tahun 1999 dan “Distinguished International Alumnus Award” dari University of Western Australia pada tahun 2007.
Boediono pertama kali diangkat menjadi menteri pada tahun 1998 dalam Kabinet Reformasi Pembangunan sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional. Setahun kemudian, ketika terjadi peralihan kabinet dan kepemimpinan dari Presiden BJ Habibie ke Abdurrahman Wahid, ia digantikan oleh Kwik Kian Gie.
Ia kembali diangkat sebagai Menteri Keuangan pada tahun 2001 dalam Kabinet Gotong Royong menggantikan Rizal Ramli. Sebagai Menteri Keuangan dalam Kabinet Gotong Royong, ia membawa Indonesia lepas dari bantuan Dana Moneter Internasional dan mengakhiri kerja sama dengan lembaga tersebut. Oleh BusinessWeek, ia dipandang sebagai salah seorang menteri yang paling berprestasi dalam kabinet tersebut. Di kabinet tersebut, ia bersama Menteri Koordinator Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro-Jakti dijuluki ‘The Dream Team’ karena mereka dinilai berhasil menguatkan stabilitas makroekonomi Indonesia yang belum sepenuhnya pulih dari Krisis Moneter 1998. Ia juga berhasil menstabilkan kurs rupiah di angka kisaran Rp 9.000 per dolar AS.
Ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai presiden, banyak orang yang mengira bahwa Boediono akan dipertahankan dalam jabatannya, namun posisinya ternyata ditempati Jusuf Anwar. Menurut laporan, Boediono sebenarnya telah diminta oleh Presiden Yudhoyono untuk bertahan, namun ia memilih untuk beristirahat dan kembali mengajar. Saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan perombakan (reshuffle) kabinet pada 5 Desember 2005, Boediono diangkat menggantikan Aburizal Bakrie menjadi Menteri Koordinator bidang Perekonomian. Indikasi Boediono akan menggantikan Aburizal Bakrie direspon sangat positif oleh pasar sejak hari sebelumnya dengan menguatnya IHSG serta mata uang rupiah. Kurs rupiah menguat hingga dibawah Rp 10.000 per dolar AS. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEJ juga ditutup menguat hingga 23,046 poin (naik sekitar 2 persen) dan berada di posisi 1.119,417, berhasil menembus level 1.100. Ini karena Boediono dinilai mampu mengelola makro-ekonomi yang kala itu belum didukung pemulihan sektor riil dan moneter.
Pada tanggal 9 April 2008, DPR mengesahkan Boediono sebagai Gubernur Bank Indonesia, menggantikan Burhanuddin Abdullah. Ia merupakan calon tunggal yang diusulkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan pengangkatannya didukung oleh Burhanuddin Abdullah, Menkeu Sri Mulyani, Kamar Dagang Industri atau Kadin, serta seluruh anggota DPR kecuali fraksi PDIP.

Advertisement

Advertisement

Free Website Hosting